Senin, 18 Mei 2026

Musim Bungur Berbunga



Lyn sering duduk di bawah pohon bungur itu manakala musim berbunga tiba. Ia menyukai tiupan angin yang menyapu lembut wajahnya. Sembari mendengar cericit burung yang hinggap di dahannya. Lyn merasakan kebebasan setiap kali berada di sana. 
Di kaki bukit di arah barat sana, sebuah alur membelah ladang. Ke alur itu setiap pagi dan sore orang-orang kampung datang mengambil air. Termasuk Lyn. Saat musim kemarau tiba, air di alur kering total. Yang tersisa hanya lumpur kering. Orang orang desa, termasuk Lyn, terpaksa mencari ceruk-ceruk di antara rumpun pisang yang masih digenangi air. Diceduknya air itu sedikit demi sedikit dengan gayung. Sangat hati-hati. Ayah Lyn berkali-kali menggali sumur, tapi airnya hanya terisi saat hujan turun. 
Lyn ingin segera sampai ke puncak bukit. Duduk di bawah pohon bungur yang sedang berbunga. Menikmati angin sore yang setengah liar. Setengah kenangan hidupnya tersimpan di sana. Itulah mengapa, meskipun Lyn sudah lama pindah ke kota, ia tetap sempatkan pulang ke kampung tiap kali musim bungur berbunga tiba.
Dua puluh tahun lalu, musim bungur berbunga. Lyn sedang termenung di bawah pohon bungur. Matanya lurus menatap ke kaki bukit. Langit mulai memerah saga, tetapi Lyn belum ingin beranjak. Ia masih tenggelam dalam ingatan tentang percakapannya dengan Razak dua minggu lalu. Razak bilang suka padanya. Tiba-tiba saja. Razak juga ingin menikah dengannya. Lyn tersedak. Menikah? Razak baru dua puluh tahun dan dirinya baru kelas dua SMA. Lyn tertawa, pernyataan itu lebih mirip lelucon. Razak bilang ia serius. Lyn tertawa lebih keras hingga tubuhnya berguncang guncang.
Lyn, meskipun sekolah di kampung, tetapi punya pengetahuan yang bagus. Ia suka membaca koran-koran bekas yang sering didapatkan kala membeli bawang. Ia suka menonton Dunia Dalam Berita di sela-sela mengerjakan PR. Ia suka meminjam buku di perpustakaan sekolah, yang jumlahnya bisa dihitung jari. Dari buku-buku itulah Lyn tahu ada kota di Amerika yang namanya Pensylvania. Ia bertekad kalau punya anak nanti akan diberi nama Sylvania. Ada kota yang sepanjang malam begitu gemerlap. Di kampung Lyn, hingga menjelang tahun 2000 listrik saja belum ada. Lalu, muncul Razak, anak tetangganya, bilang ingin mengawininya, membangun rumah tangga dan punya anak. Bukankah itu sama saja Razak akan memasungnya?
"Aku masih punya mimpi-mimpi yang ingin kugapai. Aku tentu ingin menikah, berkeluarga, dan punya anak, tapi bukan sekarang."
"Kapan?"
"Aku pun belum terpikir kapan. Aku bahkan belum tamat SMA, memikirkannya saja membuatku malu."
Setelah mengucapkan itu Lyn meminta Razak segera pergi. Tak elok jika kepergok orang kampung. Razak berpaling. Wajahnya memerah. Tangannya terkepal. Hingga urat-urat berwarna biru tampak seperti menggeliat. Dan sebelum benar-benar meninggalkan Lyn, ia menggumamkan sesuatu yang hingga saat ini membuat Lyn penasaran.
Sepekan setelah perbincangan itu, Lyn baru pulang dari mengambil air dari alur, saat ia lihat segerombol tentara di halaman rumah. Lyn mempercepat langkah, tak peduli meski air di ember yang dijunjungnya bertumpahan. 
Tentara-tentara itu mencari ayahnya, yang kebetulan belum pulang meskipun sudah sore. Mereka menggerebek seisi rumah. Kemudian membuka sebuah tong kayu berisikan beberapa goni gabah. Mereka saling pandang sambil menyeringai. Seperti sudah menemukan sesuatu yang dicari.
Hingga malam ayah Lyn belum tiba di rumah. Mungkin ada orang yang mencegahnya pulang. Tentara-tentara itu, setelah menunggu berjam-jam, memutuskan untuk pergi. Mereka membawa semua gabah sebagai "barang bukti". Lyn bingung, ibu Lyn dan adik-adiknya juga, barang bukti apa? Saat berusaha menahan agar tak semua gabah mereka diangkut, ibu Lyn malah menerima hentakan hingga membuatnya nyaris terjungkal. 
Para tetangga hanya berani mengintip dari lubang lubang di dinding. Bukan tak ingin menolong, tapi nyali mereka seperti gumpalan es yang memuai. Ayam dan bebek pun tak berani berkotek. Mendadak semuanya senyap. Hanya teriakan ibu Lyn yang melengking-lengking.
Ayah Lyn tiba di rumah menjelang tengah malam. Bajunya basah oleh peluh. Mukanya kusam dan kelelahan. Debu debu menempel. Sebagian lekat di rambutnya yang keriting. Lyn dan adiknya segera menyongsong kepulangan ayah mereka. Ibu Lyn segera mengambil segelas air putih. Tak ada yang berbicara. Ayah Lyn meneguk minumannya sekali tandas. Rumah terasa hening.
"Honda Ayah putus rantai," katanya sepatah, berharap bisa jadi jawaban, selanjutnya ia meminta putri bungsunya mengambil handuk.
Esoknya, mulai ada kabar mengejutkan yang berembus. Toke Deurih, ayah Lyn, disebut-sebut dicari tentara karena membantu gerilyawan. Gabah di dalam tong kayu itu adalah buktinya. Isu itu berembus cepat. Ayah Lyn tidak menyangkal, tidak juga membenarkan. Saat kepala desa menemuinya, ia hanya bicara sepatah, "Siapa di kampung kita yang tidak pernah berbagi beras atau nasi, atau sekurang-kurangnya kopi kepada awak nanggroe?"
Pak kepala desa tidak menjawab, ayah Lyn kemudian melanjutkan, "Yang saya penasaran, siapa yang melaporkan saya?"
Ayah Lyn masih bekerja seperti biasa, menggalas. Membeli apa saja hasil kebun warga, untuk kemudian dijual ke pasar. Ia sudah menggalas sejak muda. Di tengah situasi kampung yang semakin kacau ini, berulang kali istrinya minta agar ia merantau saja, tapi Toke Deurih masih bergeming. Ia lebih tak mau meninggalkan keluarganya di tengah situasi seperti ini.
Tepat di hari ketujuh, ayah Lyn pergi dan tak pernah pulang sampai hari ini.
Lyn ingat, sehari sebelumnya Lyn dan ayah naik ke puncak bukit. Mereka duduk berdua di bawah pohon bungur yang sedang berbunga. Lyn dan ayahnya sangat dekat. Tapi dekat, bukan selalu harus diterjemahkan banyak bercakap-cakap. Lyn selalu merasa canggung saat berada di dekat ayahnya. Ia tak pernah merengek kepada ayahnya, seperti yang sering dilakukan adik-adiknya. Banyak yang ingin ia ucapkan, tapi kata-katanya selalu tertahan di kerongkongan.
"Jadilah perempuan cerdas yang punya pendirian, Lyn. Hanya orang bodoh yang mudah dikuasai oleh nafsu. Dan orang yang dikuasai nafsu cenderung mudah mengorbankan orang lain."
Lyn melirik ayahnya. 
"Lihat pohon bungur ini, dia tahu kapan waktunya berbunga, dan dia tetap berbunga meskipun tidak ada orang yang menikmati keindahannya. Tapi, orang-orang yang mau bersusah payah tetap akan menemukannya."
Lyn merasakan keganjilan dari kata-kata ayahnya. Ayahnya tentu bukan sedang membicarakan tentang pohon bungur.
"Ayah...?"
Lyn bermaksud menceritakan tentang Razak. Tapi sekuntum bunga bungur gugur dan diterbangkan angin. Lyn segera bangkit dan menangkapnya. 
"Lyn mau bilang apa tadi ke Ayah?"
Lyn pura-pura lupa.
"Warnanya cantik. Lyn suka."
"Sekarang Ayah jadi tahu kenapa Lyn suka berlama-lama di sini."
Itulah hari terakhir yang dihabiskan Lyn bersama ayah. Di hari ketujuh setelah tentara mendatangi rumah mereka, ayah Lyn  berangkat dari rumah saat matahari masih terang tanah. Dan tak pernah kembali. Lyn patah hati. Dan tak pernah sembuh. Tapi, siapa lelaki berpenutup wajah yang ada dalam gerombolan tentara hari itu? Ia yang hanya berdiri di sudut rumah dengan gelagat seperti orang gelisah. Lyn sempat bersitatap sekilas. Terasa familier, tapi ia tak mau menebak-nebak.
*
Lyn tiba di puncak bukit. Ia duduk persis di tempat ia duduk bersama ayahnya dulu. Terngiang kembali pesan ayahnya. Pundaknya terasa hangat, seolah ayahnya sedang duduk di sisinya dan merangkulnya. Air mata Lyn menetes perlahan. 
Ia pandangi ke seluruh bukit. Ladang ladang dipenuhi kacang kuning yang sebentar lagi bisa dipanen. Matahari masih cukup terik. Petani membalut muka mereka dengan secarik kain untuk menghindari paparan sinar matahari secara langsung.
Dalam perjalanan pulang, Lyn berpapasan dengan beberapa petani. Lyn menyapa mereka. Lyn menanyai apakah hasil panen akan bagus? Hanya satu di antara mereka yang tampak diam saja. Gelagatnya gelisah. Lyn mengenalinya. Razak. Saat pandang mereka bertemu, tiba-tiba saja Lyn teringat pada mata pria berpenutup wajah yang turut dalam gerombolan tentara yang mencari ayahnya.
x
x
Lyn mendaki bukit kecil yang dipenuhi oleh beragam jenis rumput. April mendatangkan kebahagiaan hingga bunga-bunga rumput mekar bersamaan. Tak terkecuali sebatang bungur tua di puncak bukit itu. Tajuknya rimbun, mencuatkan bunga-bunga berwarna ungu di sela-sela daun yang lebat. Saat angin sore yang hangat berembus, kuntum bunganya bergoyang-goyang, seolah sengaja menggoda Lyn.
Lyn mempercepat langkahnya. Napasnya terengah. Lyn menertawai dirinya. Betapa mudahnya ia merasa lelah sekarang. Lyn sadar, dirinya bukan lagi Lyn belasan tahun silam. Lyn kala itu adalah remaja perempuan yang gesit dengan tungkai kaki yang kokoh dan lincah. Puncak bukit itu bisa dicapainya dengan mudah. 

Sabtu, 30 Agustus 2025

Setelah Kau Pergi, Negeri Ini Makin Tak Baik-Baik Saja



Setelah kau pergi, keadaan di negeri ini semakin tak baik-baik saja. Malam kemarin, seorang anak di ibu kota negara, bernama Affan Kurniawan, yang baru berusia 21 tahun, seorang tulang punggung keluarga, akhirnya meninggal dunia setelah ... dilindas oleh mobil berlapis baja dan antipeluru pada Kamis malam, 28 Agustus 2025. 

Ya, dilindas oleh mobil barracuda milik Satuan Brimob Polda Metro Jaya. Mengerikan, ya. Sungguh tragis. Ini bukan kematian biasa. Ini tragedi. Pertanda bahwa negeri ini semakin tak baik-baik saja. Semakin tersuruk dalam lubang yang dalam.

Jika kaumasih ada, mungkin kamu akan melihat sendiri betapa semakin frustrasinya menjadi rakyat akhir-akhir ini. Atau, mungkin kaujustru frustrasi karena (mungkin) aku misuh-misuh kepadamu sebagai pelampiasan atas segala kedongkolan di hati.

Saat pemilu lalu, berbagai janji dilarungkan sebagai sesaji politik dan hinggap dalam sanubari rakyat. Tapi semua itu hanya fatamorgana. Kamuflase belaka. Rakyat terlalu serius menanggapi dongeng politik. Sementara politisi semakin lihai membual. Mereka semakin tak malu-malu menunjukkan "sisi lain" mereka yang nirempati dan nirakhlak.

Ini bulan Agustus. Bulan kemerdekaan. Tepat pada tahun ini, gempita perayaan 80 tahun Indonesia baru saja berlangsung di seluruh antero negeri. Dengan episentrumnya, tentu saja, di suatu tempat di mana para pejabat berkumpul untuk bersenang-senang. Dengan cara ... berjoget-joget gemoy.

Gemoy. Sebuah kata yang mulai diperdengingkan kepada kita menjelang musim pemilu lalu. Dan kini telinga kita semakin akrab, bahkan mesra, dengan istilah itu. Gemoy, entah kenapa, aku merasa kata-kata itu lebih dari sekadar kata. Ia mengandung, mungkin senyawa, mungkin pula sihir, atau semacam zat bius, yang mampu menghipnotis atau menyihir atau melenakan kita agar tunduk-patuh pada ketololan penguasa. Tak bisa berkutik karena sudah disajenkan dengan makanan bergizi gratis, sekolah rakyat, atau sejenisnya.

Usia delapan puluh tahun negara ini, yang disimbolkan dengan angka delapan (8) dan nol (0). Gabungan dua angka yang teramat istimewa. Angka delapan terbalik, bukankan itu simbol infinity atau ketertakhinggaan? Sedangkan nol, jangan anggap ia hanya sebuah bilangan yang kosong. Justru, karena nol-lah sebuah bilangan akan berubah nilainya. Kita tentu bisa membedakan nilai sebuah angka dengan tambahan 0, 00, atau 000. 

Ah, ironinya, karena nol pula kita kerap kesulitan menghitung jumlah uang rakyat yang dikorupsi para tikus busuk itu. Karena korupsi mereka, rakyat semakin akrab dengan istilah triliunan, tapi bingung ada berapa banyak nolnya.

Yang tak terhingga, ditambah sebagai penambah nilai bilangan, mestinya itu simbol untuk sebuah usia negeri yang bernilai dan tak terhingga. Kita berharap, yang tak terhingga itu adalah kebahagiaan yang kita rasakan karena pejabatnya berakhlak baik, tak jago mencuri, dan amanah. Namun, kenyataannya? Akhlak menjadi jargon: ber-AKHLAK!

Agustus belum pun berakhir. Euforia bulan kemerdekaan masih tersisa pada dinding-dinding gapura yang dicat merah-putih, atau umbul-umbul merah-putih yang masih berkibar--meski sudah robek karena terus dipapar angin. Namun, kita sudah harus menyaksikan seorang anak bernama Affan Kurniawan harus pergi dengan cara seperti itu. 

Di sisa-sisa bulan kemerdekaan ini, yang kita rasakan justru perasaan terjajah oleh bangsa sendiri. Melalui kebijakan-kebijakan semacam kenaikan pungutan pajak, kenaikan tunjangan anggota DPR RI, meninggalnya seorang anak karena di otaknya sudah menjadi sarang cacing. Atau ... tanah-tanah menganggur kita yang akan dirampas oleh negara. Juga perihal rekening kita yang bakal dibekukan sekiranya dalam tiga bulan tak ada transaksi. Yang rajin bertransaksi pun akan diawasi. 

Tiba-tiba aku menjadi khawatir pada dua rekeningku. Dua-duanya hanya tersisa beberapa puluh ribu lagi. Kemarin sore, aku mentransfer setengah dari beberapa puluh ribu itu ke rekening yang lain supaya bisa ditarik beberapa puluh ribu. Kaubingung, ya? Sama, aku lebih bingung. Bingung bagaimana caranya agar rekening itu jangan sampai dibekukan--mengingat jika saldonya tak bertambah, aku tak bisa bertransaksi, kan?

Tak cukup di situ, rakyat pun masih dikatakan tolol. Anehnya, beberapa orang yang kita enggak tahu apa kontribusinya untuk bangsa ini justru diganjari penghargaan oleh Presiden. Bukan cuma fisik kita yang dihajar, emosi kita dikuras, mental kita pun dirusak. 

Kau, yang sudah di sana, semoga selalu berbahagia. Tenanglah karena tak perlu lagi menyaksikan dan merisaukan berbagai "dagelan" buruk yang dipertontonkan oleh orang-orang yang mengaku pemimpin kita. Ah, di dunia fana ini, kata pemimpin semakin kehilangan makna, bahkan tak bermakna lagi.

Seperti yang dulu-dulu sering kita bincangkan. Pemimpin, mestinya mengayomi, kan? Mestinya lebih mau mendengar, kan? Harus punya bahu yang kuat dan dada yang lega untuk mendengar keluh kesah rakyatnya, kan? Tapi semua itu tidak ada pada mereka yang mengaku pemimpin, entah itu di eksekutif, lebih-lebih di legislatif. Mereka ini seperti dua penyamun yang berkomplot untuk mencuri harta rakyat. Harta kita. Mereka sebenarnya badut. Cuma bisa ngibeng sana ngibeng sini.

Itu saja yang ingin kukabarkan kepadamu hari ini. Semoga sepenggal doa yang kukirim semalam bisa menjadi "jaminan" untukmu mendengar ceritaku hari ini. Allahumma firlahu warhamhu wa 'afihi wa 'fu 'anhu




Sabtu, 09 Agustus 2025

Semangkuk Mi Komplit di Hari Sabtu



Semangkuk mi ramen komplit dihidangkan oleh pramusaji setelah aku selesai menyunting dua artikel masing-masing 1.500 kata. Segera kugeser laptop, kuatur ke mode sleep. Saatnya bersantap. Aroma kuah kari dari mi yang kupesan sungguh menggoda. Tadinya aku ingin memesan seporsi laksa, tetapi malah tergiur pada mi kari--setelah melihat gambarnya di buku menu--dengan aneka toping: irisan daging sapi, daging ayam, bola ikan, jagung, sawi, dan telur. Rupanya daging sedang kosong, sebagai alternatifnya diganti dengan udang. 

Pukul sebelas lewat seperempat saat aku tiba di kafe ini. Aku pelanggan pertama. Pagi tadi, saat tiba di kedai kopi sekitar pukul tujuh, aku juga jadi pelanggan pertama. Sudah beberapa pekan ini hari-hariku selalu berawal lebih pagi dari biasanya. Pukul enam lewat aku sudah stand by di depan laptop, berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang baru start pada pukul sembilan pagi atau setengah jam lebih awal dari itu. 

Malam pun begitu, setelah salat Magrib, sembari menunggu Isya, aku mencicil pekerjaan. Setelah Isya aku break sebentar, baru lanjut lagi hingga pukul sepuluh atau lebih sedikit. Sebagai "bonus", aku sudah mengantuk berat sebelum pukul sebelas. Jika biasanya sering tertidur di atas pukul dua belas, akhir-akhir ini sudah pulas sebelum itu. Menonton Drakor pun selalu terlewatkan. Sudah tak sanggup lagi.

Aktivitasku hari ini kumulai dengan memosting beberapa berita ke website. Setelah itu membuat catatan hasil pertemuan sore kemarin dan mengirimkannya ke grup. Dua hal itu kuanggap penting dan mendesak. Barulah setelah itu aku menyunting dan menyiapkan konten untuk postingan di akun medsos yang akan diposting siang atau sore nanti. Pagi tadi sebelum keluar rumah, sudah ada satu konten yang tayang. 

Sembari mengerjakan itu, proses chit-chat dengan teman, rekan kerja, atau narasumber tetap berlangsung melalui WhatsApp. Inilah enaknya bekerja antarlayar. Pada satu waktu bisa mengerjakan beberapa hal sekaligus alias multitasking. Meskipun, sehabis itu biasanya terasa lelah luar biasa. Sebab pada waktu yang bersamaan otak kita dipaksa untuk mengorganisasikan beberapa hal sekaligus. Data dan informasi berbeda yang harus dihadirkan otak dalam waktu bersamaan memberinya beban ekstra. Tetapi, begitulah hebatnya otak kita. 

Selesai membuat konten, aku mencicil menyunting tulisan untuk sebuah buku antologi. Ketika tulisan kedua hampir rampung, masuk pesan dari seseorang. Ia memastikan apa hari ini aku jadi datang ke tempatnya. Ya, Allah, aku benar-benar lupa kalau kemarin aku membuat janji temu dengannya hari ini. Syukurlah kemarin belum ada kepastian soal waktu.

"Pukul sebelas bisa, ya, Bu? Sekarang saya sedang ada pekerjaan," balasku buru-buru.

Masih ada tiga per empat jam lagi sebelum pukul sebelas. Aku segera merampungkan suntingan yang tinggal sedikit lagi. Pukul setengah sebelas aku harus sudah bergerak. Benar saja, aku tiba di rumah ibu tersebut tepat waktu. Ia menyambutku di rumahnya yang sederhana. Rumah itu adalah bantuan dari salah seorang anggota legislatif melalui dana pokok pikirannya. Kami banyak mengobrol tentang kegembiraannya bisa mendapatkan rumah tersebut sehingga kini ia punya tempat tinggal yang layak huni. Baginya punya rumah seperti mimpi, tapi ia juga yakin bahwa tak ada yang tak mungkin bagi Allah untuk mewujudkan.

Kami juga mengobrol tentang harga beras yang naik gila-gilaan. "Sanggup beli beras, tak sanggup beli ikan," begitulah ucapnya.

Aku setuju. Sekarang, harga-harga barang memang pada melambung. Mulai dari beras hingga minyak, mulai dari bawang hingga ikan. Kami mengobrol tak lama, hanya sekitar tiga puluh menit. Aku pun tak ingin berlama-lama karena perutku terasa nyeri akibat datang bulan. Dalam perjalanan pulang, tetiba aku teringat pada semangkuk mi laksa yang pernah kucicip di kafe ini. Sebelumnya, pernah dua kali aku datang, tapi stok mi sedang kosong. Aku pulang dengan setengah sebal saat itu. 

Hari ini aku datang lagi, tapi justru memesan yang lain. Selain karena ketiadaan daging iris yang sempat memengaruhi mood-ku untuk makan, ternyata lidahku memang lebih cocok dengan laksa atau yang cheese. Kupesan juga segelas minuman berwarna biru dengan campuran soda, es batu, dan setangkai daun mint. Segar benar meneguk ocean squash untuk hari yang terasa menyengat.



Sembari menunggu pesanan mi, aku bisa menyelesaikan dua suntingan lagi. Ah, berarti tinggal empat tulisan lagi. Aku janji menyelesaikannya maksimal hingga hari Selasa. Semoga esok tuntas semua. 

Memasuki bulan Agustus ini, hari-hariku memang terasa sangat padat. Hingga saat ini, masih ada satu buku yang mesti kurevisi dan kusiapkan daftar pustakanya untuk proses cetak ulang; menyelesaikan beberapa bab tulisan lagi untuk buku yang sudah kujanjikan untuk diluncurkan pada akhir Oktober nanti. Dua pekerjaan ini masuk daftar penting dan mendesak karena berburu dengan tenggat. Juga, beberapa hasil liputan yang tulisannya bahkan belum kusiapkkan, termasuk satu liputan pada Juni lalu. 

Usai menghabiskan semangkuk mi, aku pun menyusun jadwal untuk sepekan ini. Esok, Minggu (10/8) dimulai dengan rapat persiapan FGD yang rencananya bakal digelar pada tgl 12 atau 13 Agustus. Hari Rabu pagi (13), aku punya agenda siniar untu pre-launching buku Berdamai dari Senjata Berkonflik dalam UUPA yang akan diluncurkan pada 15 Agustus--bertepatan dengan 20 tahun perdamaian Aceh. Di hari Jumat itu, sorenya aku juga sudah ada agenda menjadi pemantik diskusi film Peace Generation yang juga dihajatkan untuk memperingati dua dekade damai Aceh. Sebelum itu, pada hari Kamis, undangan untuk agenda yang sama juga sudah ada. 

Selama empat bulan terakhir nyaris tak ada yang berubah dari ritme kerjaku. Yang berbeda mungkin, kini tak ada lagi yang menyapa atau sekadar merecoki ketika aku bekerja. Atau, aku yang bahkan tanpa ditanyai pun akan bercerita sendiri. Tanggal lima belas nanti, tepat empat bulan ia pergi. Saat menyantap mi seperti tadi, sambil mendengar lagu-lagu mengalun lembut, perasaan sentimental hadir seketika. Atau, saat menulis catatan ini, tiba-tiba aku terkenang pada pesan-pesannya yang menguatkan. Selain karena takdir Tuhan, aku percaya, bahwa dukungannya begitu besar hingga aku berada pada titik ini.[] 

Senin, 02 Juni 2025

Hujan Bulan Juni



Setelah tahun-tahun berlalu

Akhirnya aku memahami arti dari bait-bait Hujan Bulan Juni* 

Bahwa Hujan Bulan Juni tak selalu tentang hujan yang turun dari langit

Bahwa Hujan Bulan Juni bisa turun ketika Juni sedang terik-teriknya


Hujan Bulan Juni

Bisa saja berupa:

kerinduan yang menyeruak manakala aku (tanpa sengaja) mendatangi tempat kita pernah beberapa kali bertemu

saat kusadari aku tak bisa lagi bercengkerama denganmu

saat kupahami dunia kita kini berbeda

saat ruang-ruang yang dulu kita gunakan untuk bertukar cerita tak berfungsi lagi


saat kupandang ke luar jendela, kau duduk di beranda

saat kutengok di pekarangan, kau duduk di halaman

saat kuintip ke belakang, kau duduk di taman

tapi itu semua hanya kenangan

itulah Hujan Bulan Juni

yang tumpah ketika Juni sedang terik-teriknya


*Judul puisi Sapardo Djoko Damono

Rabu, 07 Mei 2025

Life Begin at Fourty



Life begins at forty katanya. Hidup dimulai saat usia empat puluh tahun. Jika demikian, berarti inilah hari pertama aku "memulai" hidupku. Karena pada hari ini, hari usiaku genap empat dekade. Setidaknya begitulah jika aku mengacu pada usia resmi yang tertera di berbagai dokumen administrasi kependudukan. Karena adminduk itu pula, usia produktifku menjadi lebih pendek. Namun, karena itu pula aku bisa curi start untuk sekolah lebih awal.

Semula aku berniat untuk "merayakan" momen istimewa ini dengan pergi ke kafe. Aku akan memesan (mungkin) secangkir red velvet atau latte dan sepotong keik. Nyatanya, aku (kembali) terdampar di sebuah warung kopi yang dalam beberapa waktu terakhir lebih sering aku kunjungi (justru) karena sepi pengunjung. Seperti biasa, aku pun memesan secangkir kopi dan mengudap beberapa kue.

Barangkali, inilah esensi menjadi seorang manusia "paruh baya". Lebih menyukai tempat yang tenang, alih-alih tempat yang ramai nan bising. 

Menyadari bahwa usiaku kini tak muda lagi, hal pertama yang kulakukan adalah bersyukur. Bersyukur karena seluruh pancaindraku masih berfungsi dengan baik; bersyukur karena nyawa masih bersarang di dalam tubuh ini; bersyukur masih menemukan ucapan-ucapan selamat ulang tahun dari satu dua orang teman saat bangun tidur.

Tak ada yang begitu luar biasa dari hidupku, tapi kalau kupikir-pikir, apa yang kualami selama hidupku agak kompleks juga. Tak ada pencapaian yang luar biasa. Prestasi akademikku sejak sekolah dasar hingga kuliah tidak menonjol--kalau tidak dibilang gagal. Bahkan profesi yang kulakoni saat ini bisa dibilang efek dari sebuah "kecelakaan", tapi aku sangat menikmati kecelakaan ini. Kuanggap ini sebagai berkah atas keinginan masa kecilku untuk menjadi berbeda dari orang-orang di sekitarku.

Namun, kalau boleh sedikit berbangga diri, aku ingin mengapresiasi diriku sendiri. Sebelum usiaku benar-benar genap empat puluh tahun, aku berhasil "menyematkan" gelar sarjana di belakang nama adik bungsuku. Satu-satunya adik perempuanku. Sebagai anak sulung, mungkin aku akan selalu merasa bersalah jika tak mampu menyekolahkan adikku hingga ke perguruan tinggi.

Aku juga sudah berhasil membangun ulang rumah kami sehingga kini kami kembali punya tempat bernaung. Bagi sebagian orang, membangun rumah mungkin suatu hal yang biasa. Normal. Tidak untukku. Aku mengerahkan segala daya dan upaya demi mewujudkan rumah (impian) tersebut. Aku menahan banyak keinginan pribadi agar bisa menabung. Karena itu aku merasa menjadi sangat berguna sebagai seorang anak. 

Barangkali hanya dua itu prestasiku yang menurutku cukup "bermartabat". Yang membuat 'ke-a-d-a-a-n-ku' mendapat pengakuan dari orang-orang sekitarku. Selebihnya, aku hanyalah sehelai daun yang tetap bergerak karena terjebak di arus yang deras. Sering aku hampir tenggelam, tetapi kemudian terapung kembali.

Aku bersyukur, hingga usiaku yang sekarang, Allah senantiasa menyehatkanku. Tak sekali pun aku pernah merasakan rawatan rumah sakit. Semoga Allah terus menjagaku. Semoga Allah terus menyehatkanku. Dan semoga aku bisa menjaga diriku dengan sebaik-baiknya sebagai wujud syukurku atas karunia Allah.

Memasuki usiaku yang sekarang, ada beberapa hal yang kulakukan sebagai memijak "anak tangga" baru. Pertama, aku memutuskan untuk kuliah lagi. Kuliah di prodi yang sejak dua dekade silam aku inginkan. Untuk orang-orang seusiaku, apalagi dengan aktivitasku sekarang, kuliah bukan lagi untuk mencari gelar akademik, melainkan untuk "memberi makan" ego yang terselubung di dalam diriku. Aku selalu percaya dan meyakini, hidup akan terus berwarna selama kita menemukan hal-hal atau pengetahuan baru. Kuliah adalah salah satu cara--untuk saat ini--yang bisa kulakukan untuk mewarnai hidupku yang kompleks ini.

Kedua, aku memutuskan untuk bergabung dengan sebuah media daring baru. Setelah tiga tahun "berhibernasi" dari media daring yang terbit harian, aku tergelitik lagi untuk menikmati hal-hal semacam itu. Saat mendapatkan tawaran pada Ramadan lalu, aku bahkan tak meminta waktu untuk berpikir. Aku langsung memutuskan untuk mau dan bilang iya. Pada akhirnya, aku sadar,  segala sesuatu yang kulakukan selama ini bukan karena "apa", melainkan karena "siapa". Sering aku bertahan dalam satu kondisi karena faktor siapa itu tadi.

Memaknai Kehilangan

Namun, ini kali pertama aku mengingat tanggal lahirku dengan kesedihan. Mendung menyelimutiku seharian ini. Dadaku terasa penuh saat aku menuliskan ini. Ini pertama kalinya aku tidak mendapatkan ucapan selamat ulang tahun dari seseorang, bukan karena ia tak mau mengucapkan, tetapi karena orang tersebut sudah tak ada. Juga bukan ucapan selamat ulang tahun yang kuharapkan ada darinya, melainkan sapaan yang membahagiakan. 

Menjelang siang tadi, saat aku menceritakan perihal rasa kehilanganku pada seorang teman, aku mengatakan, "Ternyata ada orang-orang yang bahkan setelah dia enggak ada pun, kita masih mengingatnya." 

Orang itu, tentulah sangat berkesan di hati, keberadaannya berarti, dan kehilangannya menghadirkan jeri. Lagi-lagi aku bersyukur karena teman tersebut bisa memahami. Responsnya memvalidasi rasa kehilangan yang aku rasakan selama hampir dua bulan ini. Dan hanya padanya, menceritakan apa yang sebenar-benarnya teralami tak memunculkan rasa bersalah dalam diri ini.

Malam sebelumnya aku menuliskan secarik isi hatiku:

Hei, kamu ... 

Apa kabarmu? 

Aku ingin bercerita, tapi besok saja, ya. 

Aku ingin ketemu, tapi tak mungkin lagi, ya. 

Senyummu tetap menawan dalam ingatanku. 

Tuturmu tetap lembut dalam pikiranku. 

Tindakmu tetap santun dalam kenanganku. 

Ah, beginikah rasanya kehilangan? 

May, 06, 2025: 01.42.03 WIB

Yang menakjubkan, malam itu aku memimpikan dia. Pertama kalinya ia hadir sebagai mimpi sejak ia pergi dari kefanaan ini. Dalam mimpi itu ia memintaku untuk menunggu. Syukurlah, ia hanya memintaku menunggu. Bukan mengajakku pergi. Jika tidak, mungkin catatan asal-asalan ini tak pernah ada ....[]


Selasa, 15 April 2025

Kau Pergi dengan Membawa Segala Kenangan tentang Kita

Hari ini sebulan yang lalu, kau pergi dengan membawa segala kenangan tentang kita. Aku terlampau bersedih hingga tak sanggup menuliskan apa pun untuk "mengantar" kepergianmu ketika itu. Kecuali hanya beberapa potong kalimat. Hari ini, sedihku telah berkurang, tetapi justru kerinduanku yang semakin bertambah.

Nyaris setiap hari aku membuka kotak pesan darimu. Entah untuk melihat pesan-pesan bercentang satu yang (tetap) kukirimkan untukmu. Entah sekadar untuk membaca ulang pesan-pesan terdahulu. Yang pasti, di sana masih terdapat foto terakhirmu yang kau kirim untukku. Kau berada di sebuah resto, sedang menyuap nasi berwarna kuning yang dimasak dari beras basmati. Kau bilang itu nasi kebuli. Menggugah seleraku saat kau kirimkan foto itu. 

Setiap kali membuka kotak pesan itu, aku berharap centangnya menjadi ganda. Atau mungkin pesanku kemudian berbalas. Sekalipun bukan olehmu. Seperti pagi itu, sebulan yang lalu, aku sedang berolahraga di taman seperti biasa. Kusempatkan buka WhatsApp untuk melihat pembaruan terkini dari daftar kontak. Ada pembaruan darimu. Sebuah foto yang memperlihatkan seseorang terbaring di ranjang pasien rumah sakit. Di ruang ICU. Sebuah monitor menunjukkan angka-angka tertentu. Juga ada alat bantu napas yang dipasang pada tubuh pasien. Tak begitu kuperhatikan wajah yang terhalang oleh selang alat bantu napas itu sehingga kulewatkan pembaruan itu.

Awalnya tak sedikit pun terpikir kalau itu kamu. Namun, saat aku melihat pembaruan kedua, tertera sepotong kalimat yang memanjatkan doa berharap kesembuhan. Namamu tercantum di sana. Refleks aku menutup mulutku yang ternganga. Air mataku tumpah. Kulihat lagi pembaruan pertama. Ku-reply segera pembaruan itu, "Abang sakit?"

Begitulah aku bertanya. Dengan bahasa sehari-hari yang biasa kupakai saat mengobrol denganmu. Dengan harapan, kamu sendiri yang akan membalas pesan itu nantinya. Pesan itu berbalas kemudian, tetapi bukan kamu yang membalasnya. Hari-hari berikutnya, aku hanya bisa menunggu ada kabar baik mengenai kondisimu. Dan itu sungguh menyiksa. Selama itu pula, aku terus berdoa. Semoga kita masih sempat bertukar cerita. Semoga kita masih sempat bersua wajah.

Aku mendoakan kesembuhanmu dengan caraku sendiri. Setiap usai salat, selalu kubacakan surah Yasin. Aku berharap fadilahnya sampai kepadamu: menyadarkanmu; menyehatkanmu kembali. Namun, empat hari kemudian, yang kudapati justru sebuah kabar duka. Kau pergi, meninggalkan aku; meninggalkan segala yang ada pada kehidupan fana ini; meninggalkan orang-orang yang mencintai dan menyayangi kamu.

Matamu mengatup untuk selamanya. Napasmu berhenti untuk seterusnya. Jantungmu tak lagi berdenyut sejak dokter menetapkan waktu kepergianmu: Sabtu, 15 Maret 2025, pukul 00. 25 WIB. Pancaindramu tak lagi berfungsi. Nyawamu terlepas dari jasad, pergi menghadap Sang Pemilik Kehidupan. 

Kau pergi bertepatan dengan 15 Ramadan 1446 Hijriah. Aku melihatmu terakhir kali juga pada saat Ramadan. Ramadan yang lalu. 1445 Hijriah. Saat kuingat-ingat lagi, kita pertama kali saling mengenal di bulan Maret, kau pun pergi di bulan Maret. Kita saling kenal di tahun 2005 dan terpisah di tahun 2025. Itu sudah dua puluh tahun yang lalu. 

Aku pernah, bahkan sering menangisimu, tetapi menangisi kehilanganmu seperti itu sangatlah menyesakkan. Semakin aku menangis, semakin satu per satu kenangan tentangmu muncul. Senyummu yang selalu memesona melayang-layang di sekitar mataku. Tutur katamu yang selalu lembut, saat itu rasanya justru begitu bising di telingaku. 

Bahkan kau yang kulihat terakhir kali tahun lalu, rasanya semakin jelas dalam ingatanku. Kau yang bergamis putih, menunggu hadirku di bawah tenda di pekarangan rumah. Tenda yang dipasang untuk menerima pengunjung yang melayat atas kepergian saudaramu. Kau menyongsong dengan sepasang sayap yang merentang. 

Apakah kepergianmu tak boleh kutangisi? Boleh, kan? Bagaimana mungkin aku tak bersedih. Bagaimana mungkin aku tak menangis. Saat kusadari kini, ternyata kamu masih terlalu berarti untukku. 

Tahun lalu, pada pertemuan terakhir kita, terasa kini semacam reviu atas hari-hari kita yang sudah-sudah. Bukan hanya itu, kau pun seperti mereviu kembali kehadiranmu sebagai seseorang di dunia ini. Kau bercerita tentang dari mana orang tuamu berasal, di mana mereka pernah tinggal, dan di mana akhirnya mereka menetap. Kau jabarkan di mana kau lahir, tumbuh, dan besar. Obrolan yang intens.

Kau telah pergi, dengan membawa segala kenangan tentang kita. Apa yang kini bisa kukatakan selain selamat jalan, Zenja? Doa-doa untukmu terus kupanjatkan. Semoga Allah mendengar dan menerima doaku. Aku mengingatmu sebagai orang baik yang penuh kasih. Sebagai orang dewasa yang membantuku berproses dan bertumbuh. Yang selalu mendukungku dan senantiasa mengingat hari ulang tahunku.

Waktumu telah tiba, meskipun kau belum begitu tua untuk pulang ke sana. Tapi begitulah takdir, begitulah maut, cepat atau lambat tak sedikit pun ditentukan oleh usia. Masih banyak cerita yang kusimpan, belum sempat kusampaikan padamu karena aku masih menunggu waktu yang tepat. Ternyata waktu yang tepat itu tak pernah ada. Semua cerita itu kini telah kuterbangkan ke angkasa. Semoga kau bisa menemukan salah satunya. Ada atau tidaknya kamu, aku selalu ingin menjadi yang kau banggakan ....[]


Sabtu, 01 Maret 2025

Selamat jalan, Black

Black (kanan) bersama Cleo.


Selamat jalan, Black.

Terima kasih sudah bertahun-tahun bersama kami.

Kau hadir sebagai pelipur di tengah kebosanan saat pandemi melanda.

Kerincingan di lehermu yang riuh saat menyambut kami pulang akan selalu jadi kenangan.

Kamu kucing yang manis, manja, tetapi tidak rewel.

Tatap pandangmu selalu teduh

Ekormu yang superpendek begitu lucu

dan “kaus putih” di kakimu itu menjadikanmu semakin istimewa bagi kami.

Black, kemarin kamuu masih bersama kami. Kau memang sakit dan tampak lemas, tapi bukankah setiap Ramadan kamu selalu sakit? Hingga tak sedikit pun kami curiga bahwa ini sakit yang akan mengantarmu pada peristirahatan terakhir.

Kemarin siang aku mendengar suaramu yang memilukan. Menyayat hatiku. Apakah kau bermaksud memberi tahu?

Black, sering kudengar cerita-cerita tentang kucing-kucing yang mau meninggal justru meninggalkan rumahnya, supaya pemiliknya tidak sedih dan berduka.

Tapi kamu justru membiarkan kami menyaksikan kepergianmu. Di waktu subuh di hari pertama Ramadan.

Kaki Black usai tak bernyawa lagi, 1 Maret 2025.


Black, ternyata kepergianmu bisa bikin patah hati.

AKu menguburkanmu pagi ini. Kugali tanah dengan cangkul dengan keringat dingin mengucur. Antar capai dan sedih. Kubalut jasadmu dengan kain putih dari Bu De. Kumassukkan kamu ke liang itu dan kututup dengan tanah. Tak lama kemudian hujan turun, seperti melengkapi rasa sedihku.

Kami nelangsa sekali. Kupikir, kehilangan kamu yang seekor kucing takkan sebesar ini, tapi rasa aku patah hati.


Beristirahat dengan tenang ya, Black.